Fungsi Genta dalam Pemujaan Hindu

Fungsi Genta dalam Pemujaan Hindu

PERJALANAN GENTA DI INDONESIA

Oleh :
Untung Suhardi



Perjalanan genta merupakan akar sejarah dalam membentuk peradaban baru terutama dalam perkembangan agama Hindu dan Budha setelahnya. Peradaban yang dulunya merupakan pusat pembelajaran yang tidak hanya menjadikan cetakan sejarah yang terjadi. Namun dalam perkembangannya menjadikan suatu negara ataupun bangsa melupakan sejarahnya karena pengaruh pimpinan bahkan para pelaku sejarah yang menjadikan peristiwa masa lalu ini hilang agar tidak digugat pada perkembangannya. Pemikiran ini sebenarnya sebuah awal dari runtuhnya peradaban yang ada bahkan cetakan sejarah yang ada  dalam buku sejarah perjalanan manusia ini hanya kenangan yang ada dalam buku sejarah dan bukti nyata yang ada hanya hamparan tanah yang luas dengan kenangan dari para pelaku sejarah yang tersingkir dari panggung peradaban.

Pada awal goresan tinta ini penulis menggunakan pendekatan yang bersifat menggugah dari para pemikir yang ada pada pemikiran yang dilakukan pada pembicaraan oleh para tokoh yang ada dalam perkembangan Hindu yang ada di Nusantara. Sembah sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam prabawa Beliau, sebagai Sang Hyang Aji Saraswati yang selalu menjadi kekasih seorang sisya di dalam perjalanannya menuju kesadaran kosmis, sehingga mendorong keinginan untuk menjadi dekat dan berbakti kepada Beliau, sebagai ungkapan rasa terima kasih atas ilmu pengetahuan serta pencerahan yang telah diterima timbul kesadaran untuk mengabdikan diri (ngayah) kepada Beliau dengan cara mendalami nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran dan simbol-simbol agama Hindu. Setiap aktivitas keagamaan tidak terlepas dari simbol, atribut atau simbol-simbol tersebut merupakan media bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri dengan sang Pencipta, menghantarkan persembahan (yajna), mengadakan dialog (param parum = saka „Purusapura‟ = sepi / heneng „Bali Semarapura‟ melalui kemahatmianan genta pinara pitu) serta mohon perlindungan danwaranugraha-Nya. Kata kunci dari dinamika kehidupan beragama dalam masyarakat Bali adalah pelaksanaan yajna yang direpresentasikan dalam sistem upacara yang rumit. Yajna merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh pemeluk agama Hindu dan berasal dari bahasa Sanskerta „yaj‟ berarrti korban, sedangkan yajna berhubungan dengan pengorbanan dilakukan berdasarkan rasa pengabdian dan cinta kasih (Putra, 1982:1).

Selengkapnya KLIK









2 comments:

  1. Mantap pak Untung . Mampir ke gubuk sya pak disini hindudamai.blogspot.com

    ReplyDelete

Contact Us

Name

Email *

Message *

Back To Top