Pranayama & meditasi

Pranayama & meditasi





Praktek Pranayama – Meditasi Setiap Saat
Praktek Pranayama – Meditasi Setiap Saat.

Praktek Pranayama menjadi ideal bila disertai Pranava Japa.
Disini pengaturan nafas hanya dalam tiga tahapan saja, dimana menahan nafas saat kosong (bahih-kumbhaka) dibiarkan saja kosong tanpa pelafalan dalam hati (manasu). Lafalkan dalam hati suara A(ng) saat menarik nafas (puraka), U(ng) saat menahan nafas (antah-kumbhaka) dan M(ang) saat menghembuskan nafas (recaka). Bersamaan dengan puraka dengan manasu A(ng), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang penuh anugrah;
                Bersamaan dengan antah-kumbhaka dengan manasu U(ng), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara yang penuh dengan Cinta-kasih; Bersamaan dengan recaka dengan manasu M(ang), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci, pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.
Bilamana dilakukan pengaturan dalam empat tahapan, dianjurkan untuk melafalkankan dalam hati Gayatrimantram sebagai berikut:
OM – Bhur – Bhvah – Svah…….bersamaan dengan puraka;
Tat – Savitur – vare – niyam……bersamaan dengan antah-kumbhaka;
Bhargo – devasya – dimahi…….bersamaan dengan recaka;
Dhiyo – yonah – pracodayat…..bersamaan dengan bhih-kumbhaka.
Kedua praktek ini adalah yang paling praktis dan paling umum dilakukan oleh berbagai kalangan dan tingkatan penekun. Baik Pranayama dan Japa tiga tahapan maupun empat tahapan, ada yang menyertai dengan penghitungan bulir-bulir tasbih. Namun, bagi sementara penekun yang merasakan ini sebagai kurang praktis dan menyolok perhatian [terutama kalau sedang berada di tempat-tempat umum], bisa menggunakan nafasnya langsung sebagai tasbih. Yang manapun yang dipilih, hendaknya disesuaikan dengan kondisi, kepentingan dan kebiasaan masing-masing, agar ia dapat dipraktekkan dengan santai, tanpa ketegangan yang tak perlu. Ingat, tujuan utamanya adalah membersihkan atau menentramkan vritti.
mempraktekkan pengaturan nafas ini seorang sadhaka bisa memperoleh umur panjang. Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam semenit. Pengurangan frekuensi nafas melalui pelatihan, meningkatkan ketahanan paru-paru. Konon, semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun.
Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun. Yang lebih rendah lagi adalah ular; ular hanya bernafas 2 sampai 3 kali per menit. Ular umurnya bisa 500 sampai 1000 tahun.
kaitan antara frekuensi nafas dgn kehidupan spiritual, smkin sedikit nafsu keinginan seseorang, smkin rendah frekwensi nafasnya, demikian jg sebaliknya. Ia yg mempraktekkan japa, meditasi&mempelajari kitab2 spiritual-religius/kitab2 suci, punya frekuensi nafas yg lbh rendah&punya konsentrasi yg lbih baik. Semakin rendah frekuensi nafas seseorang, jg berarti semakin meningkatnya konsentrasi & lebih tenteram hidupnya.
Jadi,semakin jelas bahwa pengaturan nafas bukan sj berkait dgn kesehatan&umur seseorang,namun terbukti mmang memungkinkan konservasi serta pengaturan daya-vital yg baik hingga amat kondusif dlm pengembangan batin.Yg paling perlu diperhatikan baik2 adalah, latihan Yoga —jenis apa saja— harus dibawah bimbingan seorang Guru Yoga yang handal, berpengalaman&terpercaya.Yg pasti, Yoga tak mungkin dipelajari hanya lewat buku2.
Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga; udara, yang sebelumnya telah terisap, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut Pranayamayoga.”
Seorang Guru pernah mengingatkan siswanya, “Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan. Pranayama akan amat membantumu dalam mencapai Samãdhi”.
Chandogya Upanishad mengilustrasikan: “Bagai burung yang di-ikat dengan tali; setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, ia akan kembali untuk beristirahat, justru pada tempat dimana ia terikat; begitu pula pikiran, setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, akan kembali beristirahat pada nafas, karena pikiran punya nafas sebagai pengikatnya.”






No comments:

Post a Comment

Contact Us

Name

Email *

Message *

Back To Top